Sabtu, 03 Maret 2012

budidaya lada di tanah bekas tambang

Teknologi Budidaya Lada di Lahan Bekas Tambang

Yulius Ferry dan Kurnia Dewi sasmita

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri

Abstrak

Luas areal tanah bekas tambang semakin luas, di Bangka sebagai daerah penambangan timah, luas lahan bekas tambang telah mencapai 400.000 ha. Sedangkan lahan pertanian malah semakin berkurang karena berubah fungsi menjadi tempat pemukiman, pasar dan sebagainya. Tanah bekas tambang berpotensi digunakan sebagai lahan pertanian misalnya untuk budidaya tanaman lada. Namun lahan bekas tambang timah mempunyai kelemahan-kelemahan yaitu miskin unsur hara, miskin bahan organik dan mikroorganisme serta mempunyai pH rendah. Oleh sebab itu sebelum dimanfaatkan untuk budidaya lada, tanah bekas tambang tersebut perlu dibenahi. Bahan pembenah yang digunakan antara lain kompos, mikroorganisme dan pemupukan. Kompos dan mikroorganisme yang digunakan dapat berasal dari daerah sekitar lahan bekas tambang seperti tanaman air, mikorhiza dan pemupukan NPK yang komposisinya berbeda dibandingkan dengan komposisi pemupukan NPK pada tanaman lada yang dibudidayakan di tanah mineral lainnya .

Kata kunci; tanah bekas tambang, lada, pembenahan, kompos, mikoriza dan pupuk NPK

Abstrack

Land area of ​​the former mining area, in the Bangka as a tin mining area, the former mining area has reached 400,000 ha. While agricultural land even further reduced because of changing the function of settlements, markets and so forth. Potentially ex-mining land use as agricultural land for cultivation of crops such as pepper. But the former tin mining land has weaknesses that nutrient poor, poor organic matter and microorganisms and has a low pH. Therefore, before utilized for the cultivation of pepper, the ex-mining land need to be addressed. Repair materials used include compost, microorganisms and fertilization. Compost and microorganisms that are used can be derived from the area around the former mining land as water plants, and fertilizer NPK mikorhiza a different composition than the composition of NPK fertilizer on pepper plants grown in soil minerals.

Key words: land mined, pepper, revamping, compost, mycorrhiza and fertilizer NPK

Pendahuluan

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung merencanakan akan melakukan penanaman lada hingga luasnya 80.000 ha (seperti luas areal tahun 2000). Untuk keperluan tersebut Pemda Bangka Belitung telah membangun kebun-kebun induk di beberapa Kabupaten sebagai sumber benih tanaman lada di masa depan. Penanaman lada ini memerlukan areal lahan seluas 60.000 ha. Sementara ketersediaan lahan pertanian di Bangka Belitung semakin sempit dan persaingan penggunaan lahan semakin gencar.

Alternatif lahan yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian adalah lahan bekas tambang yang luasnya telah mencapai 400.000 ha. Lahan ini berupa lahan bekas tambang yang terdiri dari hamparan pasir (kwarsa) dan kolong-kolong (telaga). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan bekas tambang dapat ditanami dengan akasia, jambu monyet, kelapa dan lain-lain (Sitorus, et al., 2008). Keberhasilan ini memberikan peluang bagi tanaman lada untuk dikembangkan juga di lahan bekas tambang.

Tanaman lada tidak memerlukan masa tanah yang banyak, hanya sampai kedalaman 30 cm (Syakir., 2008). Kedalaman tanah sampai 30 cm tersebut merupakan lapisan yang lebih mudah mengalami perbaikan. Selain itu budidaya tanaman lada sudah sangat familier di Bangka Belitung, sehingga tingkat adopsi teknologi akan lebih tinggi.

Tanah bekas tambang mempunyai kekurangan-kekurangan antara lain: masalah fisik, kimia (nutrients dan toxicity), dan biologi (Rahma., 2008). Masalah fisik tanah mencakup tekstur dan struktur tanah. Tanah lahan bekas tambang adalah pasir kwarsa yang miskin dengan unsur hara dan bahan organik, dan memiliki struktur yang gembur dan lepas. Masalah kimia tanah berhubungan dengan reaksi tanah (pH), kekurangan unsur hara, dan sisa mineral toxicity. Sedangkan masalah biologi dijumpai dengan terbatasnya penutupan vegetasi dan tidak adanya mikroorganisme potensial. Vegetasi yang hidup di daerah ini sangat terbatas seperti golongan semak belukar berkayu keras, rumput-rumputan dan jenis tanaman tahan kering lainnya (Sitorus., et al., 20080).

Sedangkan tanaman lada menghendaki media tumbuh yang subur dan mempunyai daya menahan air yang cukup tinggi. Lada merupakan tanaman yang rakus unsur hara (Waard, 1964). Susunan kimia tanah terbaik untuk tanaman lada yaitu 0,27% N, 0,29% P2O5, 0,4% K2O, 0,18% MgO dan 0,5% CaO dengan kemasaman tanah antara 5,5 – 6,9 (Zaubin, 1979). Tekstur tanah yang diinginkan adalah liat berpasir (Wahid et al., 1986).

Oleh sebab itu untuk menggunakan tanah bekas tambang sebagai lahan pengembangan tanaman lada diperlukan pembenzhan-pembenahan. Pembenahan dapat dilakukan dengan menggunakan bahan pembenah tanah (soil conditioner), pemilihan jenis vegetasi, dan pemanfaatan mikroorganisme yang sesuai untuk memperbaiki kondisi lahan sebelum penanaman lada.

Pembenahan Tanah Bekas Tambang Timah

Pembenahan tanah adalah segala usaha untuk memperbaiki atau memulihkan kembali lahan yang rusak sebagai akibat kegiatan pertambangan, agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan kemampuannya (Direktorat Jendral Rehabilitasi Hutan dan Lahan Departemen Kehutanan, 1997).

Ruang lingkup pembenahan tanah bekas tambang meliputi: 1) pemulihan lahan bekas tambang yang terganggu ekologinya dan 2) mempersiapkan lahan bekas tambang yang sudah diperbaiki ekologinya untuk pemanfaatan selanjutnya. Sasaran akhir dari pembenahan tersebut adalah terciptanya lahan bekas tambang yang kondisinya aman, stabil dan tidak mudah erosi sehingga dapat dimanfaatkan kembali sesuai dengan peruntukannya (Direktorat Jenderal Mineral Batubara Panas Bumi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 2006).

Pembenahan tanah untuk budidaya lada dalam jangka pendek hanya memperbaiki tanah disekitar tanaman lada (media tumbuh). Pembenahan tanah dilakukan dengan memperbaiki fisik, kimia dan biologi tanah disekitar tanaman lada.

Perbaikan fisik

Tanah bekas tambang timah bertekstur pasir dengan kandung pasir tinggi, debu dan liat yang rendah. Sampai tanah bekas tambang umur 10 tahun, karakter fisik tanah tersbut tidak banyak pengalami perubahan (Tabel 1). Artinya tanah bekas tambang apabila dibiarkan akan memerlukan waktu yang sangat panjang untuk dapat kembali dimanfaatkan untuk budidaya tanaman. Menurut hasil penelitian PT. Tambang Timah (1991), bahwa umur tanah bekas tambang (tailing) sampai 40 tahun sifat fisiknya belum pulih seperti sebelum ditambang.

Tabel 1. Karakter sifat fisik tanah bekas tambang pada umur 1 , 5 dan 10 tahun.

Parameter

Umur tanah bekas tambang (tahun)

1

5

10

Sifat fisik

Kadar pasir

Kadar debu

Kadar liat

Kelas tekstur

96

0

4

pasir

92

2

6

pasir

93

1

6

pasir

Sumber: Ferry (2010).

Pembenahan fisik tanah tambang dapat dilakukan dengan pemberian bahan pembenah seperti bahan organik, zeolit dan tanah liat. Hasil penelitian Sasmita (2010) menyatakan bahwa pemberian kompos atau tanah liat pada lahan bekas tambang menunjukkan hasil pembaikan tanah yang cukup signifikan, dibandingkan kompos pemberian tanah liat lebih dibutuhkan di lahan berpasir tinggi tersebut. Pemberian 5 kg kompos atau 5 kg tanah liat pada lobang tanam berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman lada di lahan bekas tambang.

Perbaikan kimia

Tanah bekas tambang mempunyai pH yang rendah dan unsur hara yang rendah. Perbaikan karakter kimia tanah bekas tambang sampai umur 10 tahun terdapat pada kenaikan kadar C-organik, P tersedia, K tersedia dan penurunan kadar logam berat (Tabel 2), namun secara umum kandungan unsur hara tersebut masih rendah.

Tabel 2. Karakter sifat kimia tanah bekas tambang pada umur 1 , 5 dan 10 tahun

Parameter

Umur tanah bekas tambang (tahun)

1

5

10

Sifat kimia

pH

KTK (me 100g-1)

Total basa (me 100g-1)

Kadar N total (%)

Kadar C-Organik (%)

P tersedia (Bray l) (ppm)

K tersedia (Morgan) (ppm)

Kadar logam berat

Besi (Fe)

Mangan (Mn)

Tembaga (Cu)

Timbal (Pb)

Timah putih (Sn)

3,6

0,23

0,47

0,02

0,17

2,8

4,9

3040

15,8

1,9

6,29

0,25

4,2

0,19

0,49

0,02

0,16

3,4

9,1

159

2,7

0,6

2,77

0,52

4,6

0,19

0,43

0,02

0,26

3,9

9,6

650

4,8

1,2

2,19

0,22

Sumber: Ferry (2010)

Perbaikan karakter sifat kimia tanah bekas tambang terjadi bersamaan dengan perbaikan karakter sifat fisiknya sewaktu diberi kompos. Kelebihan kompos dibandingkan dengan tanah liat sebagai bahan pembenah tanah bekas tambang yaitu selain dapat memperbaiki sifat fisik tanah bekas tambang juga memperbaiki sifat kimianya. Hasil penelitian Ferry et al (2010) melaporkan bahwa pemberian kompos pada tanah bekas tambang dapat menaikan pH dan menurunkan kandungan logam berat (Tabel 3).

Tabel 3. Perbaikan karakter sifat kimia tanah bekas tambang pada umur 1 , 5 dan 10 tahun

Parameter

Umur tanah bekas tambang (tahun)

1

5

10

pH

6,4

6,3

6,4

K cmo(+)/kg

0,29

0,29

0,23

P (ppm)

2,17

2,56

2,14

N %

0,03

0,02

0,03

Pb

10

13

7

Sumber: Ferry, et al (2010)

Pada daerah tanah masam dengan akndungan Al tertukar tinggi seperti dtanah bekas tambang pemberian bahan organik akan menyebabkan pH meningkat, karena asam-asam organik hasil dekomposisi akan meninkatkan Al membentuk senyawa komplek (khelat), sehingga Al tidak terhidrilisis lagi. Peningkatan pH tanah juga terjadi apabila bahan organik yang ditambahkan telah terdekomposisi lanjut (matang), karena bahan organik yang telah termineralisasi akan melepaskan mineralnya, berupa kation-kation basa.

Perbaikan biologi tanah

Tanah bekas tambang sangat miskin dengan mikroorganisme, pemberian kompos pada tanah bekas tambang telah meningkatkan perkembangan perakaran dan aktivitas mikroba pada tanah tersebut. Aktivitas mikroba yang bersimbiose dengan tanaman akan memberikan dampak yang baik terhadap perkembangan perakaran dan pertumbuhan tanaman. Menurut Atmojo (2003) penambahan bahan organik dalam tanah akan menyebabkan aktivitas dan populasi mikrobiologi dalam tanah meningkat.

Pengaruh positif lainnya dari penambahan bahan oranik adalah pada pertumbuhan tanaman. Terdapat senyawa yang mempunyai pengaruh terhadap aktivitas biologis yang ditemukan di dalam tanah adalah senyawa perangsang tumbuh (auxin) dan vitamin (Atmojo, 2003). Senyawa-senyawa ini dalam tanah berasal dari hasil aktivitas mikrobia dalam tanah. Disamping itu, diindikasikan asam organik dengan berat molekul rendah, terutama bikarbonat hasil dekomposisi bahan organik dalam konsentrasi rendah dapat mempuyai sifat seperti senyawa perangsang tumbuh, sehingga berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.

Budidaya Lada di Tanah Bekas Tambang Timah

Bahan tanaman

Bahan tanaman yang digunakan sebagai benih sebaiknya berasal dari kebun induk yang bersertifikat. Saat ini di Bangka telah dibangun beberapa kebun induk yang luasnya mencapai 8 ha. Varietas lada yang dikembangkan sebaiknya varietas yang mempunyai produksi tinggi, biji besar dan toleran terhadap penyakit, seperti varietas Natar dan Petaling.

Pembibitan dilakukan setek satu ruas yang ditunaskan dibawah sungkupam plastik. Setelah setek bertunas, benih tersebut pindahkan ke dalam polybag berukuran 20x25 cm dengan media tanah campuran tanah dan kompos 1:1. Benih ini dibesarkan pada tingkat naungaan 60%. Umur 2 bulan dilakukan pemberian pupuk hayati (Mikorizha) dengan dosis 10 g/polybag, Benih siap di tanam di lapangan apabila benih sudah berkembang menjadi 7 ruas dari pembibitan berpolybag, sudah berumur antara 3-4 bulan. Benih sehat bebas dari hama dan penyakit serta varietasnya sesuai dengan yang diinginkan.

Persiapan lahan

Persiapan lahan dilakukan dengan meratakan tanah dari gundukan-gundukan yang biasanya terdapat pada lahan bekas tambang. Pembersihan lahan dari tumbuhan liar yang ada tidak perlu dilakukan, karena tanaman pionir ini akan merangsang berkembangnya mikroorganisme yang dapat bersimbiose dengan perakaran tanaman.

Selanjutnya dilakukan pengajiran sesuai dengan jarak tanam 2 x 3 meter, 2x2 meter atau 2,5 x 3 meter. Setelah pengajiran dapat dilakukan pembuatan lubang tanam dengan ukuran 40x40x40 cm, tanah bekas galian lubang dicampur dengan bahan organik (kompos) sebanyak 5 kg, kemudian tanah campuran tersebut dimasukkan kembali dalam lubang dan ajir kembali ditancapkan di tengah lubang. Bila yang akan ditanam lada panjat lakukan penanaman tiang panjat.

Penanaman

Setelah 2 minggu penimbunan lubang tanam, benih lada sudah dapat ditanam bila yang dikembangkan adalah lada perdu, tetapi bila yang ditanam lada panjat penanaman benih lada dilakukan setelah tiang panjat tumbuh dengan baik. Penanaman sebaiknya pada awal musim hujan agar tanaman yang baru ditanam tidak mengalami kekeringan.

Pemeliharaan

Penyulaman dilakukan setelah umur tanaman 3-4 bulan, dengan benih yang umurnya sama. Pemupukan dilakukan 4 kali setahun dengan dosis 36 gr Urea + 22 gr SP36 + 36 gr Kcl per tanaman per tahun, untuk pertumbuhan vegetatif dan dosis 50 gr Urea + 42 gr SP36 + 45 gr Kcl per tanaman per tahun untuk pertumbuhan generatif. Pada awal musim kemarau lakukan pemberian pupuk kandang atau kompos. Sedangkan pemberantasan hama penyakit dilakukan apabila terdapat tanda serangan, serangan penyakit busuk pangkal batang jarang terjadi didaerah dengan kandungan pasir tinggi karena kelembaban rendah.

Daftar Pustaka

Atmojo. S. W. 2003. Peranan bahan organik terhadap kesuburan tanah dan upaya pengelolaannya. Pidato pengukuhan guru besar Ilmu Kesuburan Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Ferry. Y., Juniaty Towahaa dan Kurnia Dewi Sasmita. 2010. Perbaikan Lahan Bekas Tambang Timah: Stusi Kausu; Uji Media Tanah Bekas Tambang dengan Berbagai Macam Kompos untuk Budidaya Lada. Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri. Vol. 1 No. 6. 2010.

Sitorus. S.R.P., E. Kusumastuti dan L. . Badri. 2008. Karakteristik dan Teknik Rehabilitasi lahan Pasca Penambangan Timah di Pulau Bangka dan Singkep. Jurnal Tanah dan Iklim. No. 27/2008.

Syakir. M. 2008. Ragam Teknologi Budidaya Lada. Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Vol. XX. No. 1 : 13-24.

Sasmita. K. D., Yulius Ferry dan Juniaty Towaha. 2010. Pengaruh beberapa macam bahan pembenah tanah pada tanah bekas tambang terhadap pertumbuhan lada perdu. Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri. Vol. 1 No. 7. 2010.

Wahi. P. Dan M. Syakir. 1994. Pengaruh bahan tanaman terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman lada. Laporan Tahunan 1993/1994, Balittro h. 76-77.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar